Tampilkan postingan dengan label makanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makanan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Januari 2014

Makanan Tradisional Pencegah Kanker

Kematian yang disebabkan penyakit kanker akan terus meningkat, jika tidak ada perubahan pola makan, perilaku, gaya hidup di masyarakat. Satu upaya bermakna yang bisa mengurangi penyakit kanker adalah lebih banyak mengonsumsi makanan tradisional (lokal).

"Globalisasi mendorong terjadinya perubahan radikal dalam sistem retail pangan, yang ditandai dengan menjamurnya "hypermarket", restoran cepat saji, waralaba, "food court" dari berbagai penjuru dunia, yang sebagian besar meyajikan "junk food" (makanan sampah) dengan risiko terkena kanker sangat tinggi," kata Prof dr Muhammad Sulchan dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, belum lama ini.

Ditambahkan, penetrasi pangan global menyebabkan konvergensi makanan, pergeseran budaya pangan, perubahan pola makan, dan kebiasaan makan tidak sehat. Hal itu ditandai dari konsumtivisme dan hedonisme yang imitatif.

Buruknya hubungan manusia dengan alam berpijak pada etika antroposentris -- etika yang mengedepankan hasrat manusia atas alam yang berdampak pada eksploitasi besar-besaran sumber daya alam, hiperkomodifikasi, terutama "fast food", dan hiper konsumsi. Kondisi itu membuat
hidup masyarakat menjadi sangat konsumtif.

"Dari situlah malapetaka penyakit muncul, terutama penyakit-penyakit kronik termasuk kanker," kata Sulchan menegaskan.

Dalam sejarah peradaban, menurut Sulchan, manusia mengakses pangan yang dibutuhkan untuk dikonsumsi selalu mengikuti hukum-hukum alam yang terikat secara ekologis dengan makro dan mikrokosmosnya.

"Alam semesta merupakan tempat manusia belajar banyak hal, termasuk keberagaman, keseimbangan, dan saling ketergantungan yang sinergis," katanya.

Ketika keberagaman dan keseimbangan terancam oleh perilaku manusia, maka pilar kehidupan akan runtuh. "Eksploitasi alam berlebihan untuk memenuhi hasrat konsumsi manusia sedang menuju ke arah itu," katanya.

Ia menjelaskan, beragam karsinogen (pemicu kanker) ada di dalam pangan, meliputi karsinogen pangan alamiah dan buatan, sumber subtansi selama penyimpanan, proses pengolahan panas tinggi, polutan, pestisida, bahan tambahan pangan, dan sekitar seribu zat bersifat karsinogen.

Menurut Sulchan, pengawetan dan pengolahan makanan dengan menggunakan garam, pengasapan bersifat inisiator dan promotor kanker. Makanan cepat saji menggunakan proses pengolahan dan pematangan yang berisiko menyebabkan kanker. "Westernisasi makanan meningkatkan risiko terkena kanker," katanya.

Untuk mengurangi risiko kanker, Sulchan menyarankan agar masyarakat lebih banyak mengonsumsi makanan lokal yang menggunakan bahan baku alami dan diolah secara tradisional. Selain itu, harus mengonsumsi banyak sayuran dan buah-buahan segar, karena pada keduanya terdapat banyak zat yang bersifat antioksidan.

Ia menyebutkan, memakan tahu dan tempe berbahan kedelai lokal lebih sehat dibanding kedelai impor dari Amerika Serikat yang masuk kategori GMF (genetically modified food). Kedelai GMF banyak ditolak negara-negara Eropa.

"Konsumsi sayuran dan buah asli, bukan ekstraks," katanya mengingatkan.

Ia mencontohkan kasus kanker usus besar di Tanah Air menunjukkan peningkatan. Pada tahun 1934 hanya ditemukan satu kasus, lalu pada 1937 menjadi tujuh, dan saat ini prevalensinya sekitar 1,8 per 100.000 penduduk.

"Dibandingkan prevalensi di AS dan negara maju lainnya, kasus kanker usus besar di Indonesia memang masih rendah. Namun, hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak mengurangi jumlah pengidapnya," ujarnya.

Di AS, kata Sulchan, angka kejadiannya 40 per 100.000 orang, Eropa (30), Jepang (13), India (9), dan Nigeria 2,5 kasus per 100.000 penduduk.

Hal senada dikemukakan Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia, Prof Suhartati. Dalam kesempatan terpisah, di Jakarta, baru-baru ini, Prof Suhartati mengatakan, dunia terancam ledakan penyakit kanker dalam kurun waktu 25 tahun ke depan. Diperkirakan akan ada 84 juta orang meninggal akibat penyakit kanker. "Ledakan kanker terutama terjadi di negara berkembang. Karena ada peningkatan penderita kanker sebanyak 300 persen pada tahun 2030," ujarnya.

Penyebabnya, menurut Prof Suhartati, karena penyakit kanker termasuk dalam neglected endemic atau penyakit yang tanpa gejala. Akibat ketidaktahuan akan penyakit itulah yang membuat masyarakat tidak melakukan pencegahan dini.

Hal ini dibuktikan dengan pasien yang datang sudah pada kondisi stadium lanjut. "Mereka datang dalam kondisi stadium advanced dan local advanced atau stadium 4," ujar Prof Tati.

Berdasarkan hasil survei kesehatan rumah tangga, kanker merupakan penyebab kematian nomor lima di Indonesia. Dalam 20 tahun terakhir angka penderita kanker bertambah dari 3,64 persen tahun 1981 menjadi 6 persen di tahun 2001.

Data American Cancer Society mencatat, penyebab kematian terbesar pada wanita di dunia adalah kanker payudara (19 persen), kanker paru-paru (19 persen), serta kanker kolon dan rektum (15 persen).

Pada pria, penyakit kanker didominasi oleh kanker paru (34 persen), kanker kolon dan rektum (12 persen), serta kanker prostat (10 persen). Diperkirakan, 80-90 persen kanker disebabkan oleh faktor-faktor yang terkait dengan lingkungan dan makanan.

"Dari sudut pandang gizi, diketahui bahwa energi, protein, zat besi, seng, dan vitamin A berperan penting dalam mempertahankan sistem kekebalan tubuh. Defisiensi zat-zat gizi tersebut akan melumpuhkan sistem kekebalan tubuh, dan akhirnya tubuh tidak mampu menahan karsinogenesis (pemicu terjadinya sel kanker)," ujarnya.

Dalam studi menggunakan hewan percobaan terbukti bahwa pembatasan makanan tertentu dapat mencegah pertumbuhan berbagai tumor. Teori yang mendasari hal itu ialah dengan pembatasan makanan akan menyebabkan perubahan hormonal di dalam tubuh, sehingga proses tumorigenesis (pembentukan tumor) menjadi terhambat.

"Penyakit tumor terlihat cenderung menimpa hewan percobaan (tikus) yang mempunyai berat badan berlebih akibat terlalu banyak makan," kata Prof Tati.

Makanan yang kaya akan lemak ternyata berkaitan erat dengan munculnya kanker usus dan kanker payudara. Sedangkan kandungan lemak yang rendah dan konsumsi serat yang tinggi, seperti pada pola makan vegetarian, dapat menekan jumlah penderita kanker.

Tumorigenesis akan semakin berkembang pada pola makan yang rendah lemak tak jenuh ganda. Lemak tak jenuh, baik tunggal maupun ganda, selama ini dikenal sebagai lemak yang bermanfaat bagi pencegahan penyakit jantung koroner. Bahan nabati seperti kacang-kacangan umumnya kaya akan lemak tak jenuh.

Hormon tertentu diduga ikut bertanggung jawab pada munculnya tumor. Pengeluaran hormon itu dipicu oleh konsumsi lemak yang tinggi. Contohnya adalah hormon prolaktin (serum) yang merangsang pertumbuhan tumor, ternyata kadarnya semakin meningkat apabila makanan yang kita konsumsi kaya akan kandungan lemak.

"Ketika kita memasak daging, terbentuklah senyawa HCA (senyawa amina-amina heterosiklis) yang dipercaya dapat menyebabkan kanker. HCA muncul sebagai reaksi antar protein hewani selama proses pemasakan atau browning (pencokelatan). Semakin sedikit HCA yang terbentuk, semakin sehat daging yang kita konsumsi," katanya.

Namun, diakui Prof Tati, banyak orang yang tidak tahu bahwa cara memasak makanan ternyata sangat mempengaruhi jumlah HCA yang terbentuk. Memanggang daging di dalam oven akan menghasilkan HCA lebih sedikit dibandingkan dengan menggoreng, membakar, atau memanggang di atas kompor yang suhunya tinggi.

Sedangkan merebus secara perlahan-lahan dengan panas bertahap, mengukus atau memasak dengan oven, praktis tidak menghasilkan HCA. Berbagai percobaan pada hewan menunjukkan bahwa HCA berpotensi mengakibatkan kanker usus besar, payudara, pankreas, hati, dan kandung kemih.

Studi yang dilakukan New York University Medical Center mengemukakan bahwa wanita yang rajin makan daging merah memiliki peluang menderita kanker payudara dua kali lipat, dibandingkan mereka yang hanya makan daging unggas dan ikan.

"Mengonsumsi daging sebaiknya selalu disertai dengan sayur dan buah sebagai sumber antioksidan. Buah-buahan seperti jeruk, sangat kaya akan vitamin C yang merupakan golongan antioksidan kuat. Demikian juga konsumsi sayuran berwarna hijau juga akan menetralkan pembentukan HCA," ucapnya.

[suarakarya-online.com]
tanda tangan
Read More..

Sabtu, 02 November 2013

Makanan Berwarna Hitam Melindungi Tubuh dari Penyakit Logh

Makanan Berwarna Hitam Melindungi Tubuh dari Penyakit - Asupan makanan seimbang yang menyehatkan disarankan untuk memakan makanan berbagai warna. Tapi bagaimana dengan makanan yang berwarna hitam? Makanan berwarna hitam diakui sebagai makanan super karena tingginya kandungan antioksidan yang melindungi tubuh dari sejumlah penyakit, termasuk penyakit jantung dan kanker.

Umumnya makin kaya warna buah atau sayuran, makin besar dosis zat bergizinya untuk melawan kanker dan penyakit lainnya. Anda masih harus makan buah dan sayuran yang cerah seperti kentang ungu, delima merah, dan pepaya oranye, tetapi menambahkan makanan bewarna hitam bernutrisi juga dapat membantu meningkatkan kesehatan dengan cara yang tak terduga.

Makanan-makanan berwarna hitam yang baik untuk kesehatan seperti dilansir everydayhealth.com, Rabu (14/9/2011), antara lain;

1. Kacang Hitam
Kacang hitam membantu mencegah kanker karena kaya kandungan fitokimia, senyawa kimia pada tanaman yang bermanfaat untuk kesehatan. Kacang hitam juga dianggap lebih kaya antioksidan dibanding varietas kacang lainnya.

Selain itu, bahan makanan ini juga kaya serat yang telah ditemukan dapat menurunkan risiko kanker usus. Suatu penelitian terbaru di Harvard School for Public Health bahkan menemukan bahwa makan lebih banyak kacang dan sedikit nasi dapat menurunkan risiko diabetes sebanyak 35 persen.

2. Blackberry
Blackberry mengandung polifenol, antioksidan yang membantu meringankan peradangan. Di samping rendah kalori, blackberry merupakan suplemen makanan yang sempurna. Makanan ini kabarnya juga dapat meningkatkan kesehatan otak.

Peneliti dari Human Nutrition Research Center on Aging di Tufts University memberi makan tikus tua suplemen blackberry selama delapan minggu. Hasilnya, tikus tua itu tikus memiliki keseimbangan, koordinasi, dan memori jangka pendek yang lebih baik daripada tikus yang tidak makan blackberry.

3. Kedelai hitam

Edamame (kedelai hijau) mungkin sudah umum ditemui. Namun kedelai hitam menawarkan isoflavon, saponin, pitosterol, dan bahan aktif lain yang membantu melawan kanker. Penelitian juga menemukan bahwa memasukkan makanan sehat ini dalam daftar makanan baik bagi jantung.

Dalam satu penelitian Korea Selatan, peneliti menemukan bahwa ekstrak kedelai hitam membantu meningkatkan sirkulasi darah dan menurunkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

4. Lentil Hitam
Sebenarnya tidak ada banyak perbedaan kandungan nutrisi antara lentil hitam, lentil hijau, atau kacang coklat. Tapi mungkin dapat menawarkan beberapa variasi dalam makanan. Apapun warnanya, lentil menawarkan banyak serat dan penelitian telah menemukan bahwa makanan kaya serat dapat membantu menurunkan kolesterol.

5. Jamur hitam
Kebanyakan varietas jamur bermanfaat dan mengandung zat untuk melawan kanker. Jamur shiitake yang kadang-kadang disebut jamur hitam dapat menambah variasi makanan.

Dalam salah satu penelitian terhadap 362 wanita, para peneliti menyimpulkan bahwa makan jamur dapat menurunkan risiko kanker payudara bagi wanita setelah menopause. Cobalah berbagai jamur karena semuanya memiliki dan tekstur rasa yang berbeda.

6. Teh Hitam
Sebuah penelitian dari Boston University School of Medicine menemukan bahwa pasien penyakit jantung yang minum teh hitam memiliki pembuluh darah yang lebih sehat sehat daripada pasien penyakit jantung yang tidak minum teh.

Selain itu, penelitian juga telah menemukan bahwa minum teh hitam dapat membantu menurunkan risiko serangan jantung atau stroke. Para peneliti berpikir bahwa flavonoid dalam teh mampu melindungi dan membantu mencegah pembentukan plak atau penyumbatan di dinding arteri.

7. Beras Hitam
Beras hitam dapat membantu mengobati alergi dan peradangan. Dalam sebuah penelitian laboratorium pada tikus, peneliti menemukan bahwa menyuntikkan dedak beras hitam ke kulit tikus ternyata mampu menurunkan tingkat peradangan.

Para peneliti juga menemukan bahwa tikus yang makan dedak beras hitam lebih tahan terhadap pembengkakan akibat alergi kulit. Efek ini tidak ditemukan pada dedak beras merah.
Read More..