Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 Desember 2013
Membangun Bisnis Bioskop 3D Mini

Di era tahun 80an, bioskop menjadi bagian penting bagi kebutuhan hiburan masyarakat. Kala itu, bioskop dengan konsep gedung permanen dan model layar tancap di lapangan terbuka adalah media entertainment yang diprimadonakan banyak kalangan. Seiring semakin berkembangnya bisnis pertelevisian di Indonesia, maka produksi film-film nasional mulai berkurang sehingga berdampak pula terhadap operasional gedung-gedung bioskop. Sejak dekade 90an, era film nasional dan kunjungan penonton ke gedung bioskop mulai turun drastis, dan industri hiburan mulai berpaling ke media televisi yang disokong oleh bisnis periklanan. Pada lima tahun terakhir, industri film lokal mulai kembali tumbuh yang dibuktikan dengan diproduksinya beberapa judul film. Deretan judul film asing juga mulai menyemarakkan dunia hiburan di Indonesia. Namun sayangnya, hal tersebut belum mampu membangkitkan lagi kesuksesan bisnis bioskop seperti di era tahun 70-80an. Hal ini disebabkan banyak warga masyarakat yang lebih memilih menikmati tontonan film di dalam rumahnya atau dikenal dengan istilah home theater.
Menonton film di rumah dengan media screen yang agak lebar tentu membuat suasana nyaman lebih terasa. Selain privasi lebih sedikit terjaga, gangguan dari penonton lain juga dapat dikurangi. Oleh karena itu, home cinema menjadi hal yang paling diminati oleh banyak orang. Namun, untuk mendapatkan peralatan home cinema tersebut ( seperti wide lcd, sound system, pemutar dvd, dsb.) diperlukan biaya hingga puluhan juta rupiah, dan hanya kalangan ekonomi kelas atas saja yang mampu membelinya, sementara minat masyarakat untuk menonton film dengan layar lebih lebar sangatlah tinggi. Selain karena cerita-cerita film yang menarik, minat warga terhadap tontonan di wide screen juga didorong oleh perkembangan teknologi canggih yang semakin membuat cerita dan tampilan gambar film tampak lebih hidup (bagus). Salah satu yang paling menarik antusiasme para penikmat film saat ini adalah dipakainya teknologi tiga dimensi (3D) pada beberapa produksi judul film. Berlatar belakang hal itu, maka layanan yang terkait dengan perfilman 3D merupakan bisnis yang cukup profitable dalam tahun-tahun mendatang.
Film 3D adalah bentuk teknologi visual film yang mampu menampilkan gambar terasa tampak nyata dan keluar dari layar. Untuk menikmati film 3D tersebut, diperlukan bantuan kaca mata khusus yang berperan dalam memvisualisasikan gambar di kedua mata penonton. Biasanya memakai kaca berwarna merah-hijau atau merah-biru cyan. Film 3D sebenarnya sudah dikenal sejak lama, namun mulai populer di tahun 2000an dengan dukungan teknologi digital. Banyak judul film yang juga dibuat dalam versi 3D, misalnya Avatar, Open Season, Iron Man 3, hingga Jenderal Kancil produksi dalam negeri. Dalam membangun bisnis bioskop mini 3D, ada beberapa hal mendasar yang perlu dipersiapkan, diantaranya:
1. Persiapan Tempat dan Fasilitas Pendukung
Dalam memulai bisnis ini, tempat yang berupa gedung menjadi prioritas utama. Biasanya ukuran ruangan yang dipakai adalah 3m x 4m yang dapat menampung kelompok kecil (4-8 orang). Tambahkan peredam suara pada dinding agar tidak mengganggu suasana sekitar. Untuk menambah kenyaman, berikan fasilitas sofa dan AC atau kipas angin, serta interior sesuai selera anda.
2. Penyediaan Peralatan
Adapun peralatan yang dibutuhkan untuk membangun bisnis bioskop mini 3D antara lain: control PC for screen projector 3D, termasuk mencakup 3D control software player, screen projector 3D, monitor LCD, projector yang support 3D, kacamata 3D, hanger projector 3D, paket DVD 3D, dan seperangkat sound system. Semua peralatan tersebut biasanya diperoleh dengan harga 30 - 50 juta rupiah, tergantung merek dan kualitas alat yang anda pilih.
3. Melakukan Promosi Usaha
Untuk menarik minat para pengunjung ke bioskop mini anda, maka lakukan strategi promosi usaha yang tepat. Misalnya dengan memilih film-film yang sedang ngehits atau populer di wilayah anda, menyediakan film edukatif untuk kelompok pelajar, menerapkan sistem member atau gratis nonton setelah kunjungan yang ke sekian kalinya, dan lainnya. Penetapan tarif juga harus wajar dan terjangkau, baik tarif per individu maupun per group. Untuk mempertahankan eksistensi bisnis bioskop anda, maka harus senantiasa mengikuti trend perfilman setiap pekannya. Harga sebuah DVD 3D sekitar 70ribu - 90ribu rupiah. Maka dalam satu bulan, paling tidak ada 10 judul film yang anda sediakan.
Demikian sekikas usaha membangun bioskop mini ala home theater. Menurut pengalaman beberapa pengusaha pada bidang ini, mereka dapat balik modal dalam jangka waktu 7-10 bulan. Untuk menjadikan usaha anda lebih legal, maka sebaiknya memahami dan mengikuti peraturan daerah setempat, misalnya dengan mengajukan permohonan surat izin gangguan usaha, izin bisnis hiburan, dan sebagainya.
Kamis, 12 Desember 2013
5 Bisnis Unik yang Sukses Menciptakan Miliuner
Sebuah ide kecil nan sederhana bisa menjadi celah bisnis yang mendatangkan penghasilan yang melimpah. Bahkan tak sedikit diantara pembuat gagasan tersebut menuai kesuksesan yang luar biasa. "An idea can change your life" adalah sebuah tagline iklan komersial di India yang menjadi penyemangat bagi para entrepreneur muda di negeri Bharata tersebut untuk terus melakukan inovasi dalam kewirausahaan dan bisnis. Tagline tersebut menunjukkan bahwa ide kreatif adalah aspek penting dalam membangun sebuah bisnis. Sebagai kelanjutan dari artikel yang berjudul Contoh ide usaha yang unik, berikut disajikan 5 ide bisnis unik yang membuat penggagasnya menjadi kaya raya:
1. Pet Butler

2. Wuvit

3. Positives Dating

4. Clocky

5. Knork

Selasa, 22 Oktober 2013
Peluang Bisnis Ternak Sapi Skala Rumah Tangga
Populasi penduduk di Indonesia terbesar keempat di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Jumlah penduduk yang tinggi diikuti pula dengan meningkatnya konsumsi daging sapi di tanah air terutama ketika hari raya tiba. Untuk memenuhi permintaan pasar yang kian melonjak, usaha peternakan sapi skala rumah tangga patut untuk dikembangkan. Upaya yang dinilai mampu memberi kontribusi berarti bagi roda perekonomian bangsa itu juga disinyalir bermanfaat bagi perwujudan swasembada daging sapi di tanah air.Program usaha ternak skala rumahan terbukti membawa perubahan yang signifikan terutama bagi peternak. Program ternak rumah tangga yang ada di area Sumatra Barat (Sumbar) misalnya. Di sana, bisnis ternak sapi potong skala rumah tangga telah marak digerakkan. Dengan cara konvensional, peternak sapi potong kelas rumahan itu mampu mengembangkan usahanya dengan keuntungan yang memadai.
Sistem budi daya ternak sapi berskala rumah tangga ini sudah lama diterapkan di kota Sawahlunto, Sumbar, tepatnya sejak tahun 2003 lalu. Menurut pandangan Pemerintah Kota (pemkot) Sawahlunto, penerapan sistem ini tak hanya mendorong laju pertumbuhan produksi sapi potong dalam negeri tapi juga memberi pendapatan hingga berlipat ganda kepada peternak kecil sebagai mata pencariannya.
Usaha ternak sapi potong kelas rumahan sangat ekonomis, baik dari sisi biaya pemeliharaan maupun biaya pembuatan kandang. Karena skalanya kecil, pembuatan kandangnya pun biasanya berbentuk tunggal. Meski demikian, untuk memeroleh kualitas sapi potong yang bagus, ukuran kandang usaha sapi potong rumah tangga tak jauh berbeda dengan ukuran kandang untuk pembudidayaan sapi komersiil dalam skala besar. Begitu pula untuk masalah pakan ternak dan proses pemeliharaan sapi potong.
Para peternak sapi potong kelas rumahan diberi pelatihan khusus untuk mengikuti standard pemeliharaan sapi potong skala besar. Pelatihan ini meliputi knowledge transfer kepada peternak dalam memilih bibit sapi potong. Misalnya dari segi bentuk badan, bibit tipe sapi potong umumnya mempunyai bentuk badan persegi panjang atau berbentuk bulat silinder. Sementara badan bagian muka, tengah dan belakang tumbuh sama kuat dan garis badan bagian atas dan bawah sejajar. Dengan demikian, kualitas daging sapi potong yang dihasilkannya sama dan layak untuk dikonsumsi dengan sapi potong dari peternak kelas besar.
Pemberian kepercayaan dan pelatihan kepada peternak skala rumah tangga yang dijalankan di kawasan Sawahlunto ini membuahkan hasil yang patut dibanggakan. Dalam tempo waktu enam bulan, peternak sapi potong kelas rumahan bisa memeroleh keuntungan sekitar Rp4 juta sampai Rp5 juta per satu ekor sapi potong. Padahal, dalam satu rumah tangga, sapi potong yang dibudidayakan rata-rata 2 hingga 3 ekor. Kalau harga bibit satu ekor antara Rp6 juta – Rp7 juta, sementara setelah dipelihara selama 6 bulan, harga sapi di pasaran meningkat antara Rp10 – Rp11 juta, keuntungan peternak bisa mencapai Rp4 juta – Rp5 juta per ekor. Laba ini pun bisa berlipat ganda saat hari raya keagamaan tiba, seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha dan Natal.
Nah, itu baru keuntungan yang didapat jika dilihat dari sisi profit peternak. Bila dipandang dari sisi jumlah produksi ternak, katakanlah ada 1.000 peternak skala rumah tangga dalam satu kawasan dengan total ternak sapi potong sebanyak 3 ekor. Dalam waktu enam bulan sesudah melewati masa pemeliharaan akan tersedia 3.000 ekor sapi potong lokal yang siap untuk dikonsumsi.
Sumber : http://www.ciputraentrepreneurship.com/bisnis-mikro/12557-peluang-bisnis-ternak-sapi-skala-rumah-tangga.html
Langganan:
Postingan (Atom)